RUMAH BENCANA

Berharap indah seperti sebuah istana, Namun yang diharapkan berbalik buruk.

Terasa panas ditelinga,
Saat mendengar celoteh dan tengkar para saudara.

Pandangan buruk selalu jadi yang utama.

Hina meremehkan sudah jadi ucapan yang kerap dilontarkan.

Ucapan nya selalu menghantam jiwa sampai merobek batin.
Terasa panas dikepala hingga pikiran buta menyelimuti.

Kaki ini seakan ingin beranjak pergi,

Pergi menjauh tinggalkan perih.

Yang besar selalu dijadikan alasan utama awal sebuah datang nya bencana.

Egoisme yang tak kunjung henti,
Seolah melupakan mereka lah contoh timbul nya sebuah bencana.

Lamunan tangis tak kunjung henti, Mengharapkan damai dari sebuah Istana.

Aku lah penggambar sabar dari cucu sang Adam ...

Komentar

Postingan Populer